Kemenristekdikti Tingkatkan Kemampuan Petani Kampar dengan Teknologi IPAT BO

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar kegiatan Bakti Teknologi Untuk Negeri berupa penanaman padi perdana, varietas inpari Sidenuk di desa Pulau Tinggi, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Selasa (15/5) sekaligus bagian dari rangkaian acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-23.

Acara itu dihadiri oleh Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi  Kemenristekdikti), Retno Sumekar (Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang Koordinator Bakti Teknologi Untuk Negeri dan Hendig Winarno (Perwakilan dari  Plt. Gubernur Riau, Bupati  Kampar dan Deputi Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir).

Penakaran benih padi itu menggunakan metode program IPAT BO (Intesifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik) dengan penggunaan lahan seluas 5 hektare. Hasil teknologi IPAT BO terbukti mampu mengurangi penggunaan air, mengurangi pemakaian pupuk anorganik, dan menghemat bibit. Bahkan, IPAT BO juga mampu menaikkan produktivitas lahan sampai dua kali lipat.

Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi  Kemenristekdikti) mengatakan penanaman padi sidenuk dapat menambah keragaman jenis benih padi di provinsi Riau dan mendorong minat petani sebagai penangkar di daerah khsusunya di Kabupaten Kampar karena baru ada sekitar 4 orang penangkar padi sawah yang masih aktif.

“Dengan bantuan teknologi IPAT BO, potensi produktivitas padi varietas Inpari Sidenuk rata-rata per hektar bisa mencapai 9-11 ton dengan waktu tanam hanya 3 bulan,” katanya dalam siaran persnya, Rabu.

Jumaim mengatakan Kemenristekdikti akan terus menumbuh kembangan inovasi di pelbagai daerah di Indonesia karena inovasi sebagai salah satu alat untuk mendorong nilai tambah produktivitas tanaman padi, meningkatkan kesejahteraan petani dan membuat petani menjadi mandiri melalui impementasi teknologi benih dan system penanaman padi yang efektif dan efisien.

“Teknologi IPAT BO dapat memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ucapnya.

Petani juga harus meningkatkan segi wawasan keilmuan dan teknologi karena dunia semakin berkembang seperti hasil panen tidak hanya menjadi konsumsi semata tetapi juga bisa dijual secara online dalam bentuk  kemasan beras yang siap edar,

“Sesuai dengan amanat  Presiden Jokowi, kita harus mampu mengembangkan sendiri seperti  kreatifitas dan berinovasi serta  memiliki jiwa wirausaha  atau entrepreneur,” pungkasnya.

Yudi Suryata (Perwakilan PP Kerja selaku produsen/penagkar benih) mengatakan teknologi IPAT BO ditemukan oleh Prof. Dr. Tualar Simarmata salah satu dosen Universitas Padjadjaran (Unpad). Metode itu dikembangkan sebagai satu solusi karena adanya permasalahan di lingkungan petani yang cenderung menanam padi dengan kebutuhan air cukup tinggi.

“Prof Tualar merancang satu metode penanaman dengan  teknologi hemat air, hemat pupuk anorganik, serta hemat benih. Teknologi ini menitikberatkan manajemen kepada kekuatan biologis tanah, tata air, manajemen tanaman dan pemupukan berbasis organik secara terpadu,” ujarnya.

Hendig Winarno (Deputi Kepala  BATAN) mengatakan varietas Inpari Sidenuk  sudah ditanam  secara massif  di 24 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan hasil yang cukup menggembirakan. Saat ini, pihaknya juga terus mengembangkan varietas yang lebih unggul untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan dan Batan telah menghasilkan 22 varietas padi sejak 1982 – 2014.

“Kami berharap hilirisas hasil  litbang iptek nuklir dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dengan harapan mampu meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pemanfaatan iptek nuklir,” katanya

Dalam mendukung swasembada pangan, Batan tidak hanya mengembangkan bibit unggul tanaman pangan, tetapi juga telah berhasil mendapatkan fomula biofertilizer yang bermanfaat bagi penyuburan tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *